Senin, 10 Oktober 2011

HATI YANG TERLUKA

Apakah Anda pernah terluka saat menggunakan pisau dapur? Mungkin itu luka kecil tetapi terasa sakit bukan? Namun saat seseorang bertanya “Apakah sakit?” Biasanya kita akan menjawab, “Tidak apa-apa, hanya luka kecil.” Mengakui diri kita terluka, seringkali tidaklah mudah.

Dalam Matius 18:21-35 diceritakan tetang seseorang yang tidak mau mengampuni. Karena gagal mengampuni temannya, ia akhirnya kehilangan pengampunan yang diterimanya dari sang Raja dan dijatuhi hukuman.

Seringkali mengapa seseorang sulit untuk melepaskan pengampunan berawal dari ketidak bersediaan untuk mengakui bahwa dirinya terluka. Kita menganggapnya hanya luka kecil, dan tidak mempengaruhi hati kita. Namun faktanya, kita terluka.  Akhirnya kita menjadi takut dilukai oleh orang-orang yang kita kasihi dan kita peduli.

Satu-satunya cara untuk dapat mengampuni adalah mengakui bahwa diri kita terluka. Menyadari bahwa diri kita juga butuh pengampunan dan pemulihan. Jika kita tidak pernah menyadarinya, kita akan mencekik saudara kita dan terus menuntut pembalasan.

Mengakui diri kita merasa terluka bukanlah menunjukkan bahwa diri kita lemah. Mengakui diri kita terluka menunjukkan bahwa kita membutuhkan kasih Tuhan untuk memulihkan hati kita. Ketika kita merasakan jamahan kasih Tuhan, barulah kita bisa mengalirkan pengampunan dan kasih kepada sesama kita.

Hari ini, apakah Anda terluka? Bersediakan Anda datang kepada Tuhan dan mengakuinya dengan jujur kepada Tuhan?

Mengakui bahwa Anda terluka adalah sebuah langkah awal untuk mengalami pemulihan.  

Matius 18:33

Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar