Rabu, 23 November 2011

penolakan

Kolose 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Rasanya sulit jika Anda ditolak, terutama bila yang menolak adalah seseorang yang Anda cintai. Mungkin salah satu dari anak-anak Anda, pasangan Anda, atau teman dekat.
Tetapi Alkitab mengatakan Anda perlu mengampuni orang itu karena Allah sudah lebih dulu mengampuni Anda.
Kunci untuk mampu mengampuni orang lain ada dalam ayat hari ini. Kuncinya adalah dengan mengingat apa yang Tuhan sudah lakukan bagi Anda. Bila Anda ingat apa yang Yesus Kristus lakukan untuk Anda, maka Anda memiliki kekuatan untuk memaafkan orang lain.
Jika Anda berpegang pada rasa sakit, maka itu hanya akan berakhir dengan menyakiti diri Anda sendiri. Bila Anda tidak mengampuni orang lain, Anda menciptakan kepahitan dan kemarahan dalam diri Anda. Ini akan menggerogoti Anda dari dalam dan menguras energi Anda, membuat Anda lelah sepanjang waktu. Setiap kali Anda mulai merasa kepahitan terhadap seseorang, ingatlah apa yang Yesus lalukan di kayu salib, bagaimana Dia mengasihi Anda dan Dia rela untuk memberikan nyawa-Nya sehingga dosa-dosa Anda dapat diampuni. Dia ditolak dan dihina saat Dia tergantung di sana, tapi Dia melihat semua orang dan berdoa, “Bapa, ampunilah mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Lukas 23:34)
Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda. Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda. Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)
Definisi pengampunan ditemukan dalam dua kata dalam ayat itu: “menyerahkannya kepada Dia.” Anda membiarkan Tuhan bekerja dan membuat hal-hal menjadi benar. Pengampunan bukan tentang mempercayai orang itu lagi atau melupakan segala sesuatu yang terjadi. Ini tentang menempatkan situasi di tangan Tuhan, bukan mencari kesempatan untuk balas dendam atau menyimpan dendam. Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda.
Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda. Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)

Minggu, 20 November 2011

Siapa dan Bagaimana?

“Engkau adalah Mesias!” —Markus 8:29

Ketika membaca Injil, saya melihat diri saya dalam diri para murid Yesus. Seperti saya, mereka sepertinya lambat memahami ajaran yang diberikan. Yesus terus mengatakan hal-hal seperti, “Apakah kalian belum juga mengerti?” dan “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya?” (baca Mar. 7:18). Namun akhirnya, Petrus “memahami-nya”, setidaknya satu bagian dari ajaran-Nya. Ketika Yesus bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Lalu jawab Petrus, “Engkau adalah Mesias!” (8:29).

Petrus benar tentang “siapa”-nya—Yesus— tetapi ia masih salah tentang “bagaimana”-nya. Ketika Yesus memprediksikan kematian-Nya, Petrus menegur-Nya. Yesus justru memarahi Petrus, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay.33).

Petrus masih berpikir dengan cara-cara manusiawi tentang pendirian kerajaan-kerajaan. Seorang pemimpin akan menggulingkan pemimpin yang lain dan menegakkan pemerintahan baru. Ia mengharapkan Yesus melakukan hal yang sama. Namun, kerajaan Kristus datang dengan cara yang baru—melalui pelayanan dan pengorbanan hidup-Nya.

Metode yang digunakan Allah di masa kini belum berubah. Ketika suara Setan menggoda kita untuk meraih kekuasaan, suara Yesus memberitahu kita bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi (Mat. 5:5). Untuk menjadi warga kerajaan Allah, kita harus mengikuti teladan Yesus, yang mengesampingkan ambisi-ambisi egois, melayani orang lain, dan menyerukan supaya orang-orang bertobat atas dosa-dosa mereka. 



Kita berkata kita mencintai kemanusiaan,
Tetapi bisakah kita benar-benar menyatakan
Kesiapan untuk berkorban

Bagi mereka dalam nama Yesus? 

Orang Kristen adalah duta besar yang berbicara atas nama Raja dari segala raja.

Jumat, 04 November 2011

Sabar

"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32) 


Untuk menjadi sabar bukan lah hal yang mudah. karna pada dasarnya setiap kita adalah tidak sabar. Tapi kenapa alkitab mengajarkan kita untuk bersabar. Karna dengan kesabaran kita  akan dapat mengatasi segala masalah dengan jernih. Sering kali kita mengambil keputusan yang terlalu cepat tanpa minta petunjuk dari Tuhan yang akhirnya kita menyesal di kemudian hari.


Kesabaran sangatlah penting di dalam berkeluarga, pekerjaan, atau apapun yang kita lakukan. Untuk dapat bersabar adalah sangat penting kita mengingat firman Tuhan 1 Tesalonika 5:18. Yaitu mengenai mengucap syukur dalam segala hal. Kunci untuk kita dapat sabar adalah mengucap syukur akan segala yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Percaya bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik.


Doa: Terima kasih Tuhan atas rencana dan rancanganMu dalam hidup kami. ajar setiap kami untuk dapat sabar didalam menghadapi segala hal.

Selasa, 01 November 2011

Sacrifice

Ibrani 11:4

Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik (a more excellent sacrifice) dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.

‘Pengorbanan’ adalah salah satu thema utama dalam Alkitab. Kurang lebih 1.100 kali Alkitab berbicara tentang ‘persembahan’ atau ‘pengorbanan.’ Berkorban artinya mau memberikan sesuatu yang berharga atau penting untuk melayani tujuan yang lebih besar. Ibrani 11 adalah pasal tentang iman. Dan dalam pasal iman ini maka yang dibahas pertama adalah tentang persembahan. Iman adalah pengorbanan.

Kata “kasih” muncul pertama kali dalam Alkitab adalah dalam Kejadian 22:2. Dan itu berkenaan dengan pengorbanan. Kasih adalah pengorbanan. Tidak ada kasih sejati tanpa pengorbanan! 

Kejadian 22:2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

Abraham rela mempersembahkan apa yang dia kasihi kepada Tuhan karena dia percaya bahwa kalau Tuhan bisa membuat mujizat bagi dia di masa lalu maka Tuhan juga bisa mengulangi mujizat tsb di masa yang akan datang.

1 Tawarikh 21:24

Tetapi berkatalah raja Daud kepada Ornan: "Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dengan harga penuh, sebab aku tidak mau mengambil milikmu untuk TUHAN dan tidak mau mempersembahkan korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.

Daud adalah orang yang dekat dengan hati-Nya Tuhan. Dia tahu prinsip Tuhan bawa penyembahan adalah pengorbanan. Daud beberapa kali memberikan persembahan dalam jumlah besar a.l. 100.000 talenta emas (1 Taw. 22:14) dan 3.000 talenta emas (1 Taw. 29:4). Mudah bagi Daud untuk memberikan persembahan dalam jumlah besar kepada Tuhan karena dia menyadari bahwa dia hanyalah penyalur dari berkat yang Tuhan percayakan kepadanya (1 Taw.29:16).

Abraham ditantang untuk memberi di Gunung Moria. Daud membangun rumah Tuhan di Gunung Moria. Seribu tahun kemudian puncak Gunung Moria memiliki nama yang kita kenal sebagai Calvary!

Yesus, sebagai manusia, juga bergumul waktu Dia ditantang untuk naik ke Calvary. 3 kali Dia berseru, “Seandainya mungkin biarlah cawan ini lalu daripada-Ku..” Tetapi akhirnya Yesus berkorban, Ia yang tidak berdosa mati bagi kita supaya kita bisa dibenarkan di dalam Dia. Keselamatan adalah pengorbanan. Tanpa darah Yesus yang tercurah maka tidak ada pengampunan dosa.

Ibrani 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah

Yesus pergi ke Moria, tempat visi, memiliki visi tentang orang-orang yang akan diselamatkan maka Dia rela berkorban. Kalau kita tidak hanya selalu melihat perpuluhan, persembahan, dana pembangunan kita tetapi visi tentang apa yang bisa dikerjakan lewat persembahan kita, maka kita akan melakukan perkara-perkara besar bagi Tuhan!