Jumat, 10 Agustus 2012

kecanduan khawatir

Rasa khawatir itu singkat saja kalau kita menyerahkannya kepada Tuhan.

Apakah yang terlintas dalam pikiran Anda pada saat Anda mengingat kata kecanduan? Alkohol. Obat-obatan terlarang. Cokelat. Bagaimana dengan yang satu ini: Rasa Khawatir? Apakah Anda kaget jika saya memandang rasa khawatir itu sebagai salah satu bentuk kecanduan? Memang, begitulah adanya. Apalagi alasan orang terus merasa khawatir padahal seharusnya tidak usah seperti itu?
Rasa khawatir adalah perilaku yang tidak produktif. Tidak menghasilkan hal positif apapun (meskipun mengakibatkan banyak hal negatif, seperti stres, tekanan darah tinggi, dan jerawat). Mungkin Anda berpikir bahwa orang harus berusaha melepaskan rasa khawatir mereka jika mungkin. Memang seharusnya demikian! Biarlah Tuhan bertanggung jawab atas masalahnya.
Tidak perlu 12 langkah untuk melepaskan rasa khawatir Anda. Hanya perlu satu langkah: Serahkan rasa khawatir Anda kepada Tuhan!

Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya. Nahum 1: 7

Selasa, 10 April 2012

JANGAN MARAH!

Bacaan Setahun : 2 Raja-raja15-16; Yohanes 3:1-18
Nats : Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan (Mazmur 37:8)

Bacaan : Mazmur 37:1-20

Pernahkah Anda melihat anak nelayan memancing kepiting? Mereka mengikatkan tali di sebatang bambu. Ujungnya diikatkan pada batu kecil. Lalu bambu itu diayun ke arah kepiting yang diincar, dan disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu si kepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjeratlah ia karena kemarahannya!

Karena adanya akibat serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah anak Tuhan tidak boleh terpancing melihat orang jahat. Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat (ayat 1, 7, 8). Alasannya, itu hanya akan membawa kita pada kejahatan. Emosi tinggi bisa membuat kita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain_fisik atau perasaan. Bahkan, sekalipun kemarahan itu beralasan! Anak Tuhan bisa menjadi marah atau iri hati terhadap orang jahat, yang bebas berbuat jahat, tetapi seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah. Seakan-akan Allah tidak adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat. Benarkah?
Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan anak Tuhan tak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk ke dalam pancingan mereka. Dan kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat pelakunya ke dalam dosa. Ingat saja kata pemazmur. Orang fasik takkan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan. --ENO
KEBERUNTUNGAN ORANG FASIK HANYA SEMENTAR

KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA

Selasa, 21 Februari 2012

Anak Anjing

Entah ada apa dengan nafsu makanku hari itu, makananku tersisa banyak. Aku keluar rumah untuk membuang sisa makanan tersebut. Baru beberapa langkah dari pintu luar rumah, pandanganku tertuju pada seekor anak anjing.

Anak anjing itu tampak tidak terawat, meringkuk di pojokan sebuah meja bekas yang tergeletak begitu saja di depan rumah tetanggku. Aku terdiam sejenak memandang anak anjing itu, kemudian menatap bungkusan di tanganku. Kuambil daging yang nyaris tak tersentuh olehku dan aku berjalan menghampiri anak anjing itu.
Anak anjing itu sepertinya menyadari bahwa aku sedang menghampirinya. Ia mulai mendongakkan kepalanya dan menggonggong seolah berkata "jangan ganggu aku, manusia !". Melihat reaksi anak anjing tersebut, aku tidak jadi mendekat. Kuletakkan daging tersebut agak jauh darinya dan segera mundur ke tempat ku semula sambil menatapnya, berharap ia menghampiri dan memakan daging tersebut.

Dugaanku salah, ia terus menatapku sambil menyalak tiada henti, tidak menggubris daging yang kuletakkan tadi. Aku menghela napas sejenak, lalu mengambil kembali daging tersebut dan menghampiri lebih dekat kepada anak anjing tersebut.

Reaksinya sudah dapat ditebak, dia menyalak lebih kencang dari sebelumnya, mungkin karena aku sekarang sudah lebih dekat kepadanya. Entah kenapa aku lakukan ini, tapi aku mencoba berbicara dengannya "ssst, aku tidak bermaksud jahat, malah akan memberikanmu makanan lezat ini". Tapi sia-sia saja, anak anjing itu tentu saja tidak dapat mengerti perkataanku, bahkan dia tidak mencoba mengerti, dia terus saja mengonggong dan kali ini menggeram seperti bersiap menggigit.

"Baiklah", kataku pada diri sendiri. "Kubiarkan saja dia menggigit tanganku. Saat dia menggigit tanganku, dia pasti akan merasakan daging di tanganku itu dan akan sadar bahwa aku justru membawakannya makanan".

Aku berjongkok di hadapan anak anjing itu. Kusodorkan perlahan tanganku yang menggengam daging, sedikit mengeryit karena sadar bahwa sebentar lagi tanganku akan digigit. "Semoga saja giginya belum tumbuh tajam", pikirku.

Tapi apa yang terjadi ? Ah ... anak anjing itu berhenti menggonggong dan mengendus-endus, kemudian menjilat daging di tanganku. Akhirnya kulepaskan daging itu dari tanganku dan anak anjing itu makan dengan lahapnya.

Aku tersenyum, mengucap syukur pada Tuhan atas apa yang baru saja kulalui. Tiba-tiba aku tertegun merenungkan akan apa yang baru saja kualami.

Bukankah apa yang baru kualami ini mencerminkan apa yang telah Yesus lalui ?
DIA mencoba menghampiri manusia, tapi manusia menolak dengan "mengonggong" dan "menyalak" kepada-NYA.

DIA mencoba berbicara dengan manusia, tapi manusia tidak bisa mengerti dan bahkan tidak mau mengerti, bahkan "menggeram siap untuk mengigit"

Sehingga akhirnya dia memilih cara yang memilukan, DIA merelakan diri-NYA "digigit" demi memberikan "daging" kepada kita.

"Terima kasih Tuhan karena Engkau mengingatkan kembali bagaimana Engkau rela turun menjadi manusia, dianiaya dan disalibkan demi menyelamatkan kami, manusia-manusia berdosa"

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kamis, 22 Desember 2011

Penataan Ulang

Baca: Mazmur 55:1-9

Ada kalanya komputer saya menjadi lambat. Seringnya pemakaian suatu program dan dokumen tertentu menyebabkan berbagai informasi yang ada terserak di sana-sini sehingga komputer saya harus terlebih dulu mencari bagian-bagian tersebut sebelum saya dapat mengakses informasi yang saya inginkan. Untuk memperbaikinya, saya harus menjalankan sebuah program yang akan mengumpulkan kembali bagian-bagian itu dan mengelompokkannya sehingga mudah untuk diakses. Program ini disebut defragmentasi (penataan ulang).

Seperti komputer saya, berbagai bagian dari hidup saya juga bisa terserak di sana-sini. Satu keadaan bisa memicu emosi saya ketika saya sedang mencoba berkonsentrasi pada hal lainnya. Tuntutan-tuntutan dari berbagai pihak membombardir saya. Saya ingin menyelesaikan apa yang harus dituntaskan, tetapi pikiran saya tidak mau berhenti dan tubuh saya tidak mau bergerak. Saya pun cepat merasa lelah dan tidak berguna.

Baru-baru ini saya mengikuti suatu retret dan salah satu materinya mencantumkan doa yang kata-katanya menggambarkan perasaan saya: “Tuhan, aku terserak, gelisah, dan tak bisa memusatkan perhatian.”

Raja Daud juga pernah melewati masa-masa seperti itu (Mzm. 55:3). Dalam doa, Daud menyampaikan semua kebutuhannya kepada Allah di waktu pagi, tengah hari, dan petang dengan keyakinan bahwa ia akan didengar (ay.18).


Doa dapat menolong untuk menata ulang hidup kita. Ketika kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan, Dia akan menunjukkan kepada kita apa yang perlu kita lakukan dan apa yang hanya dapat dilakukan oleh-Nya.

Kita paling membutuhkan doa, justru ketika kita hanya punya sedikit waktu untuk berdoa.

Rabu, 23 November 2011

penolakan

Kolose 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Rasanya sulit jika Anda ditolak, terutama bila yang menolak adalah seseorang yang Anda cintai. Mungkin salah satu dari anak-anak Anda, pasangan Anda, atau teman dekat.
Tetapi Alkitab mengatakan Anda perlu mengampuni orang itu karena Allah sudah lebih dulu mengampuni Anda.
Kunci untuk mampu mengampuni orang lain ada dalam ayat hari ini. Kuncinya adalah dengan mengingat apa yang Tuhan sudah lakukan bagi Anda. Bila Anda ingat apa yang Yesus Kristus lakukan untuk Anda, maka Anda memiliki kekuatan untuk memaafkan orang lain.
Jika Anda berpegang pada rasa sakit, maka itu hanya akan berakhir dengan menyakiti diri Anda sendiri. Bila Anda tidak mengampuni orang lain, Anda menciptakan kepahitan dan kemarahan dalam diri Anda. Ini akan menggerogoti Anda dari dalam dan menguras energi Anda, membuat Anda lelah sepanjang waktu. Setiap kali Anda mulai merasa kepahitan terhadap seseorang, ingatlah apa yang Yesus lalukan di kayu salib, bagaimana Dia mengasihi Anda dan Dia rela untuk memberikan nyawa-Nya sehingga dosa-dosa Anda dapat diampuni. Dia ditolak dan dihina saat Dia tergantung di sana, tapi Dia melihat semua orang dan berdoa, “Bapa, ampunilah mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Lukas 23:34)
Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda. Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda. Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)
Definisi pengampunan ditemukan dalam dua kata dalam ayat itu: “menyerahkannya kepada Dia.” Anda membiarkan Tuhan bekerja dan membuat hal-hal menjadi benar. Pengampunan bukan tentang mempercayai orang itu lagi atau melupakan segala sesuatu yang terjadi. Ini tentang menempatkan situasi di tangan Tuhan, bukan mencari kesempatan untuk balas dendam atau menyimpan dendam. Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda.
Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda. Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)

Minggu, 20 November 2011

Siapa dan Bagaimana?

“Engkau adalah Mesias!” —Markus 8:29

Ketika membaca Injil, saya melihat diri saya dalam diri para murid Yesus. Seperti saya, mereka sepertinya lambat memahami ajaran yang diberikan. Yesus terus mengatakan hal-hal seperti, “Apakah kalian belum juga mengerti?” dan “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya?” (baca Mar. 7:18). Namun akhirnya, Petrus “memahami-nya”, setidaknya satu bagian dari ajaran-Nya. Ketika Yesus bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Lalu jawab Petrus, “Engkau adalah Mesias!” (8:29).

Petrus benar tentang “siapa”-nya—Yesus— tetapi ia masih salah tentang “bagaimana”-nya. Ketika Yesus memprediksikan kematian-Nya, Petrus menegur-Nya. Yesus justru memarahi Petrus, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay.33).

Petrus masih berpikir dengan cara-cara manusiawi tentang pendirian kerajaan-kerajaan. Seorang pemimpin akan menggulingkan pemimpin yang lain dan menegakkan pemerintahan baru. Ia mengharapkan Yesus melakukan hal yang sama. Namun, kerajaan Kristus datang dengan cara yang baru—melalui pelayanan dan pengorbanan hidup-Nya.

Metode yang digunakan Allah di masa kini belum berubah. Ketika suara Setan menggoda kita untuk meraih kekuasaan, suara Yesus memberitahu kita bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi (Mat. 5:5). Untuk menjadi warga kerajaan Allah, kita harus mengikuti teladan Yesus, yang mengesampingkan ambisi-ambisi egois, melayani orang lain, dan menyerukan supaya orang-orang bertobat atas dosa-dosa mereka. 



Kita berkata kita mencintai kemanusiaan,
Tetapi bisakah kita benar-benar menyatakan
Kesiapan untuk berkorban

Bagi mereka dalam nama Yesus? 

Orang Kristen adalah duta besar yang berbicara atas nama Raja dari segala raja.

Jumat, 04 November 2011

Sabar

"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32) 


Untuk menjadi sabar bukan lah hal yang mudah. karna pada dasarnya setiap kita adalah tidak sabar. Tapi kenapa alkitab mengajarkan kita untuk bersabar. Karna dengan kesabaran kita  akan dapat mengatasi segala masalah dengan jernih. Sering kali kita mengambil keputusan yang terlalu cepat tanpa minta petunjuk dari Tuhan yang akhirnya kita menyesal di kemudian hari.


Kesabaran sangatlah penting di dalam berkeluarga, pekerjaan, atau apapun yang kita lakukan. Untuk dapat bersabar adalah sangat penting kita mengingat firman Tuhan 1 Tesalonika 5:18. Yaitu mengenai mengucap syukur dalam segala hal. Kunci untuk kita dapat sabar adalah mengucap syukur akan segala yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita. Percaya bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik.


Doa: Terima kasih Tuhan atas rencana dan rancanganMu dalam hidup kami. ajar setiap kami untuk dapat sabar didalam menghadapi segala hal.